Haris Zone official website | Members area : Register | Sign in
Image and video hosting by TinyPic


~*0*~
Ketika Anda berhenti mengubah, Anda sudah berakhir (Benjamin Franklin)
.

~*0*~
Perubahan dimulai ketika seseorang melihat langkah berikutnya (Willian Drayton)
.

~*0*~
Dia yang menolak perubahan adalah arsitek pembusukan (Harold Wilson)
.

~*0*~
Perubahan itu sendiri kekal, terus menerus, abadi. (Arthur Schopenhauer)
.

~*0*~
Perjalanan seribu batu bermula dari satu langkah (Lao Tze)
.

~*0*~
Ubah pikiran Anda dan Anda akan mengubah dunia (Norman Vincent Peale)
.

~*0*~
Tidak ada yang salah dengan perubahan, selama berada di arah yang benar (Winston Churchill)
.

~*0*~
Kita berubah, apakah kita suka atau tidak (Ralph Waldo Emerson)
.

~*0*~
Kita harus berubah menjadi seperti yang ingin kita lihat (Mahatma Gandhi)
.

~*0*~
Berteriaklah lantang jika dunia ingin melihatmu, Singkirkan rasa takutmu jika kau inginkan perubahan, Yakinlah kau bisa jika oranglain ingin percayai dirimu, Karena aku adalah sang inovator...! (anonim)
.
Image and video hosting by TinyPic
.
Image and video hosting by TinyPic Image and video hosting by TinyPic
Selamat Datang di Website Haris Media ------ Maaf Website Ini Masih Dalam Proses Pengembangan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Arah Pendidikan Indonesia di Abad 21

Minggu, 10 Juli 2011

Bangsa Indonesia mendambakan masyarakatnya maju setingkat dan sederajat masyarakat dunia. Di Tanah Air didirikan banyak pabrik berbagai jenis. Dalam peta pembangunan ditetapkan kawasan industri, kawasam permukiman dan sebagainya. Bangsa Indonesia saat ini mulai menapak pada kehidupan gelombang ketiga yang disebut Alvin Toffler, bahwa umat manusia menghadapi sejumlah lompatan ke depan, menghadapi pergolakan, perombakan dan restrukturisasi yang mendasar selama dunia berkembang. Dampaknya akan menyentuh setiap orang, merusak dan merobek kehidupan keluarga, mengguncang ekonomi, dan melumpuhkan sistem potitik dan menghancurkan nilai-nilai kita.

Sosiolog Astrid S Susanto mendeskripsikan abad 20 adalah abad teknik, otomat, abad komputer, abad interplanetaria dan biasa disebut the soules and material age yaitu abad depersonalisasi di mana manusia bukan lagi manusia. Akibat dari depersonalisasi adalah manusia tak mau dianggap sebagai yang bertanggungjawab atas akibat tindakannya, sehingga di samping menjadi suatu abad yang tak saja hampa, juga menjadi abad yang tak bertanggung jawab.

Biarpun masyarakat Indonesia tak menjadi masyarakat industrial seluruhnya, yang jelas kian hari kian banyak industri didirikan. Desa kekurangan tenaga kerja produktif karena mereka pergi ke kota bekerja di pabrik-pabrik. Mereka inilah pencipta masyarakat baru, masyarakat industrial. Keadaan masyarakat yang demikian itulah yang perlu diantisipasi dunia pendidikan. Sekolah di manapun tempatnya outputnya akan tersebar di pelbagai lapangan pekerjaan, termasuk pabrik.

Bagaimana pendidikan disiapkan untuk masyarakat industrial? Di samping keterampilan, peserta didik perlu dibekali kesadaran penggunaan waktu, ethos kerja, mengenalkan kehidupan masyarakat industrial, melatih ketahanan mental dan moral. Guna berperan di tengah masyarakat global dan dalam sistem pendidikan nasional, sekolah swasta berpeluang sangat luas. Undang-undang 20 Tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, bab 1, pasal 1 ayat (16) menyatakan, pendidikan berbasis masyarakat adalah penyelenggaraan pendidikan berdasarkan kekhasan agama, sosial, budaya, aspirasi, dan potensi masyarakat sebagai perwujudan pendidikan dari, oleh, dan untuk masyarakat.

Berarti masyarakat diberi peran mendirikan dan menyelenggarakan satuan pendidikan pada jalur pendidikan sekolah atau jalur pendidikan luar sekolah, pada semua jenis pendidikan kecuali pendidikan kedinasan. Juga di bidang kurikulum, sekolah berpeluang mengembangkan melalui percobaan atau penelitian. Singkatnya masyarakat sebagai mitra pemerintah, berpeluang luas berperan serta dalam kegiatan pendidikan nasional.

Sekolah modern dalam melaksanakan fungsinya perlu memberi porsi seimbang antara pengajaran dan pendidikan. Pengajaran adalah lebih menyangkut aspek pengetahuan dan keterampilan yang bermanfaat bagi kehidupannya kelak. Sedang pendidikan lebih menyangkut aspek kepribadian.

Pendidikan abad 21 memiliki ciri-ciri:

- Siswa belajar dengan asyik, dan berani mengungkapkan isi hatinya tanpa tekanan.

- Terjalin hubungan yang dekat antara guru dan siswa serta orangtua,

- Guru tak tertekan dengan beban berat, sukacita membimbing dan mendampingi siswa.

- Guru bertindak sebagai orangtua kedua dapat memasukkan nilai-nilai baik dalam kehidupan siswa.

- Guru perlu punya daya kreatif inovatif yang unggul sehingga mampu membawa siswa menjadi lebih baik.

- Siswa berinovasi maksimal di setiap pembelajaran.

- Kurikulum tertata runtut dan dengan tema belajar yang tak tumpang tindih.

- Kurikulum dengan tema menarik dan bermanfaat bagi siswa, orangtua dan masyarakat.

- Dukungan penuh orangtua siswa dalam daya dan dana.

-Terdapat suasana kekeluargaan di sekolah, saling dukung antarguru, guru dengan orangtua dan guru dengan siswa.

- Terdapat sistem penilaian terbuka sehingga perkembangan belajar siswa terpantau.

Dharma Wijayanto, SSi, MSi

Guru Sains Sekolah Citra Berkat Surabaya
dharmawj@yahoo.com

sumber : surya.co.id

Pendidikan Akhlak dan Character Building

Senin, 11 April 2011


Di dalam bangsa yang kuat, terdapat karakter yang kuat. Demikianlah pemeo yang menggambarkan betapa karakter merupakan suatu aset yang tak ternilai harganya dalam membangun suatu negara dan bangsa. Lihat saja, Jepang. Karakter 'Samurai' yang penuh integritas dan penuh semangat juang telah menjadikan Jepang bangsa yang besar dan selalu berhasil bangkit dari berbagai malapetaka: mulai dari bom atom sampai gempa bumi.

Oleh karena itu, character building merupakan suatu keniscayaan apabila kita di Indonesia ingin bermetamorfosa dari sebuah negara dan bangsa yang sering dirundung masalah (seperti korupsi) menjadi bangsa yang besar di pentas dunia. Di sinilah, sektor pendidikan dapat memainkan peran strategis.

Nah, mengingat mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam, khazanah pemikiran Islam secara logis tentu merupakan sumber yang kaya untuk memberikan kontribusi berharga bagi perumusan formula pendidikan character building. Adapun salah satu pemikir dunia Islam yang banyak memberikan perhatian pada isu tersebut adalah Ibnu Miskawaih (932 M - 1030 M).

Sebagaimana dikemukakan oleh Prof Suwito dalam disertasinya di UIN bertajuk Spiritualitas Pendidikan Akhlak (2004), Ibn Miskawaih adalah seorang filsuf Islam yang menemukan doktrin jalan tengah (The Golden Mean) dalam pendidikan karakter. Sudah lama John Locke telah mengemukakan konsep empirisismenya yang mengasumsikan manusia sebagai tabula rasa alias kertas putih bersih yang karakternya menunggu untuk diisi oleh pengajaran dari luar. Kemudian, Arthur Schopenhauer menggagas konsep nativisme yang beranggapan karakter manusia itu tergantung pada bakat bawaan di dalam dirinya.

Miskawaih telah meretas jalan tengah dengan mengatakan karakter manusia itu dibentuk oleh faktor dasar (nativisme) dan faktor ajar (empirisisme). Selanjutnya, dalam bahasa Miskawaih, karakter itu disebut sebagai akhlak. Sesuai dengan doktrin jalan tengah Miskawaih, pendidikan akhlak atau character building bertujuan membentuk akhlak yang bersifat tengah-tengah alias adil dan seimbang. Maksudnya, pendidikan akhlak mesti secara serasi membentuk komponen-komponen akhlak dalam diri manusia sehingga manusia (baca: anak didik) dapat menjadi pribadi yang berakhlak mulia.

Ada tiga komponen akhlak dalam pemikiran Miskawaih. Pertama, komponen nafsu bertahan hidup yang terdiri dari naluri dan insting untuk makan-minum, berkembang biak, dan lain sebagainya. Tugas pendidikan akhlak untuk komponen ini adalah mendidik anak murid supaya tidak berlebih-lebihan dalam kenikmatan dan melampaui batas. Sebagai contoh, manusia harus diajarkan untuk tidak bersikap konsumtif dan menyukai gaya hidup berlebihan karena gaya hidup yang demikian acap berujung pada kejahatan ekonomi seperti kejahatan korupsi atau perbankan, misalnya. Kedua, komponen keberanian. Peran pendidikan akhlak dalam konteks komponen ini adalah membuat anak didik tidak takut terhadap sesuatu yang seharusnya tidak ditakuti dan bukan pula berani terhadap sesuatu yang seharusnya tidak perlu ditantang. Misalnya, seseorang harus berani menentang ketidakadilan dan kezaliman, bukannya berani menentang norma-norma keadilan dalam masyarakat.

Ketiga, komponen akal. Tujuan pendidikan akhlak bagi komponen ini adalah membuat anak didik memiliki kemampuan rasional untuk membuat keputusan antara yang wajib dilakukan dan wajib ditinggalkan. Maka dari itu, seseorang yang melakukan kejahatan semisal korupsi sebenarnya boleh dikatakan sebagai seseorang yang tidak berakal karena ia tidak mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

Ketiga komponen inilah yang kemudian harus dipadukan secara selaras demi membentuk karakter yang berintegritas. Supaya tujuan itu tercapai, masing-masing komponen memiliki metoda pedagogisnya yang khas. Demi memperoleh keutamaan komponen nafsu dan keberanian, sebagai contoh, metodanya adalah memberikan keteladanan bagi anak didik. Sementara itu, komponen akal dapat digembleng dengan metode diskusi dan dialog liberal yang intinya mengarah kepada kesadaran pribadi dan pengembangan nalar.

Jelas pendapat pelik Miskawaih di atas memberikan pencerahan menarik terkait dengan upaya pendidikan karakter. Sebab, Miskawaih menyarankan penggabungan antara upaya mengasah daya kognitif dan daya praksis anak didik. Maksudnya, pelajaran karakter tidak sekadar diajarkan lewat buku atau ruang kelas yang steril. Melainkan, sang guru juga mengajarkan karakter lewat tindakan praktik yang mendekatkan anak didik pada realitas konkret yang terjadi di luar sana.

Tujuannya adalah memberikan teladan nyata bagi anak didik. Sekaligus, sintesis antara gagasan yang diajarkan di kelas dan realitas yang ada di masyarakat luas itu, diharapkan melahirkan suatu dialektika ide, sebuah dialektika yang akan merangsang diskusi dalam nalar dasar sang murid dan nalar ajar sang guru sehingga membentuk suatu akal budi mulia yang mampu membedakan antara yang baik dan buruk.

Maka dari itu, pendapat Miskawaih yang mengutamakan keteladanan dan diskusi gagasan tak pelak memberikan peran yang kian sentral bagi guru. Dalam artian, sang guru pendidikan karakter harus memiliki syarat-syarat berupa bisa dipercaya, pandai, dicintai, punya rekam jejak yang baik di masyarakat memiliki cinta terhadap ilmu dan tidak fanatik terhadap salah satu aliran agama atau ideologi mana pun.

Bahasa ringkasnya, seorang guru yang dibayangkan Miskawaih haruslah jujur, kompeten, berkomitmen kuat pada anak didik (sehingga ia dicintai), berintegritas, dinamis (karena terus belajar), dan toleran (pluralis). Apabila metoda pendidikan dan syarat guru ideal sumbangan pemikiran Miskawaih ini dapat diterapkan pada sistem pendidikan kita, niscaya kita akan memiliki pribadi-pribadi berkarakter kuat yang dapat memajukan bangsa ini. Semoga tercapai! ***

Penulis adalah Manager Program Lembaga Pengembangan Pendidikan, Psikologi dan SDM Episentrum Consulting.

Sumber : suarakarya-online.com

Berhentilah Sekolah Sebelum Terlambat!

Kamis, 07 April 2011

Jika orientasi pendidikan adalah untuk mencetak tenaga kerja guna kepentingan industri dan membentuk mentalitas pegawai—katakanlah hingga dua dekade ke depan—yang akan dihasilkan adalah jutaan calon penganggur.

Sekarang saja ada sekitar 750.000 lulusan program diploma dan sarjana yang menganggur. Jumlah penganggur itu akan makin membengkak jika ditambah jutaan siswa putus sekolah dari tingkat SD hingga SLTA. Tercatat, sejak 2002, jumlah mereka yang putus sekolah itu rata- rata lebih dari 1,5 juta siswa setiap tahun. Dalam ”kalimat lain”, ada sekitar 50 juta anak Indonesia yang tak mendapatkan layanan pendidikan di jenjangnya.

Jadi, untuk apa sebenarnya generasi baru bangsa bersekolah hingga ke perguruan tinggi? Jika jawabannya agar mereka bisa jadi pegawai, fakta yang ada sekarang menunjukkan orientasi tersebut keliru. Dari sekitar 105 juta tenaga kerja yang sekarang bekerja, lebih dari 55 juta pegawai adalah lulusan SD! Pemilik diploma hanya sekitar 3 juta orang dan sarjana sekitar 5 juta orang.

Jika sebagian besar lapangan kerja hanya tersedia untuk lulusan SD, lalu untuk apa anak-anak kita harus buang-buang waktu dan uang demi melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi?

Sir Ken Robinson, profesor pakar pendidikan dan kreativitas dari Inggris, dalam orasi-orasinya, yang menyentakkan ironisme: menggambarkan betapa sekarang ini sudah terjadi inflasi gelar akademis sehingga ketersediaannya melampaui tingkat kebutuhan. Akibatnya, nilainya di dunia kerja semakin merosot. Lebih dari itu, ia menilai sekolah-sekolah hanya membunuh kreativitas para siswa. Maka, harus dilakukan revolusi di bidang pendidikan yang lebih mengutamakan pembangunan kreativitas.

Paul Krugman, kolumnis The New York Times yang disegani, dalam tulisannya pada 6 Maret 2011, menegaskan fakta-fakta di Amerika Serikat bahwa posisi golongan kerah putih di level menengah— yang selama beberapa dekade dikuasai para sarjana dan bergaji tinggi—kini digantikan peranti lunak komputer. Lowongan kerja untuk level ini tidak tumbuh, malah terus menciut. Sebaliknya, lapangan kerja untuk yang bergaji rendah, dengan jenis kerja manual yang belum bisa digantikan komputer, seperti para petugas pengantaran dan kebersihan, terus tumbuh.

Kreativitas dan imajinasi

Fakta lokal dan kondisi global tersebut harus segera diantisipasi oleh para pemangku kepentingan dalam dunia pendidikan. Persepsi kultural dan sosial yang mengangankan bahwa semakin tinggi jenjang pendidikan semakin mudah mendapatkan pekerjaan adalah mimpi di siang bolong!

Namun, jika orientasi masyarakat tetap untuk ”jadi pegawai”, yang harus difasilitasi adalah sekolah-sekolah dan pelatihan-pelatihan murah dan singkat. Misalnya untuk menempati posisi operator, baik yang manual seperti pekerjaan di bidang konstruksi, manufaktur, transportasi, pertanian, ataupun yang berbasis komputer di perkantoran. Untuk itu, tak perlu embel-embel (sekolah) ”bertaraf internasional” yang menggelikan itu karena komputer sudah dibuat dengan standar internasional.

Akan tetapi, kualitas peradaban sebuah bangsa tak cukup hanya ditopang oleh para operator di lapangan. Mutlak perlu dilahirkan para kreator yang kaya imajinasi. Oleh karena itu, seluruh potensi kecerdasan anak bangsa harus dibangun secara lebih serius yang hanya bisa dicapai jika rangsangannya diberikan sejak usia dini. Maka, diperlukan metode pengajaran yang tak hanya membangun kecerdasan visual-auditori-kinestetik, juga kreativitas dan kemandirian.

Kata kuncinya adalah ”kreativitas” dan ”imajinasi”; dua hal yang belum akan tergantikan oleh komputer secerdas apa pun! Zaman terus berubah. Sistem pendidikan dan paradigma usang harus diganti dengan yang baru. Era teknologi analog sudah ketinggalan zaman. Kini kita sudah memasuki era digital.

Itu artinya, konsep tentang ruang dan waktu pun berubah. Hal-hal yang tadinya dikerjakan dalam waktu panjang, dengan biaya tinggi, dan banyak pekerja, jadi lebih ringkas. Maka, tujuan paling mendasar dari suatu sistem pendidikan baru harus bisa membangun semangat ”cinta belajar” pada semua peserta didik sejak awal. Dengan spirit dan mentalitas ”cinta belajar”, apa pun yang akan dihadapi pada masa depan, mereka akan bisa bertahan untuk beradaptasi, menguasai, dan mengubahnya.

Membangun semangat ”cinta belajar” tak perlu harus ke perguruan tinggi. Kini seluruh ilmu pengetahuan sudah tersedia secara digital, bisa diakses melalui komputer di warnet ataupun melalui telepon genggam.

Jadi, cukup berikan kemampuan menggunakan komputer, mencari sumber informasi yang dibutuhkan di internet, dan bahasa Inggris secukupnya karena di dunia maya tersedia mesin penerjemah aneka bahasa yang instan. Anak-anak cukup sekolah 12 tahun saja (mulai dari pendidikan anak usia dini, PAUD)! Mereka tidak usah jadi pegawai. Dunia kreatif yang bernilai tinggi tersedia untuk mereka, sepanjang manusia masih ada.

Yudhistira ANM Massardi Sastrawan; Pengelola Sekolah Gratis untuk Dhuafa, TK-SD Batutis Al-Ilmi Bekasi

Sumber : kompas.com

Ruang Hampa Demokrasi

Ruang politik bangsa akhir-akhir ini dipenuhi aroma ketidakpercayaan (distrust). Para tokoh masyarakat menuding ”kebohongan” presiden, para elite DPR dianggap menipu rakyat (terkait pembangunan gedung DPR), para pegawai bank memperdaya nasabah sendiri, para pejabat publik (pengurus PSSI) melakukan pembohongan publik, para jaksa yang menghadirkan kesaksian palsu, dan para hakim yang merekayasa keputusan hukum.

Aroma ketakpercayaan menciptakan ”krisis kepercayaan” di masyarakat demokratis. Arsitektur demokrasi tak disangga pilar-pilar kepercayaan karena tak ada lagi yang dipercaya. Ketakpercayaan menandai hampanya kebenaran. Akibatnya, pemangku kekuasaan yang semestinya membangun legitimasi kekuasaan lewat tindak tepercaya justru mengosongkan makna kepercayaan lewat tindak pemalsuan, penipuan, dan simulasi.

Sistem demokrasi representatif tak berjalan mulus karena ada ”ruang hampa” antara yang diberi amanah (pemerintah) dan yang memberi (rakyat). Ruang hampa tercipta karena kondisi ”kekosongan substansial”: ada lembaga perwakilan, tetapi tak ada ”keterwakilan”; ada lembaga pengadilan, tetapi tak ada ”keadilan”; ada lembaga keamanan, tetapi tak ada ”rasa aman”; ada lembaga penjamin, tetapi tak ada ”jaminan”—the democratic anomaly.

Hedonisme politik

Bekerjanya sebuah sistem demokratis sangat bergantung pada tingkat kesalingpercayaan yang dibangun di dalamnya. Pada tingkat negara ada kesalingpercayaan antara pemerintah dan rakyat; di antara elemen-elemen pemerintah sendiri (eksekutif, legislatif, yudikatif); di antara elemen-elemen masyarakat sipil. Pada tingkat ekonomi industrial ada kesalingpercayaan antara produsen dan konsumen.

Namun, sebagaimana dikatakan Francis Fukuyama (Trust: The Social Virtues and the Creation of Prosperity, 1996), kepercayaan sangat ditentukan oleh budaya. Kepercayaan adalah ekspektasi yang tumbuh dalam komunitas dengan perilaku reguler, jujur dan kooperatif, berdasarkan norma-norma yang dihormati bersama. Kemampuan sebuah negara- bangsa masuk ke dalam sistem jejaring pergaulan lebih kompleks bergantung pada tingkat kepercayaan yang mampu dibangunnya.

Ketika kultur yang diperlukan untuk membangun kepercayaan tak mendukung—misalnya kultur korupsi, nepotisme, kekerasan, dan pemaksaan—fondasi kepercayaan dalam sistem demokrasi akan rapuh. Penilapan simpanan di perbankan menurunkan tingkat keterpercayaan perbankan, penggelapan pajak di lembaga perpajakan merusak kredibilitas lembaga itu, manipulasi suara di DPR menghancurkan kehormatan DPR. Ketakpercayaan melahirkan prasangka. Prasangka melunturkan kepercayaan dan menandai miskinnya sensibilitas publik. Orang yang tak punya sensibilitas publik tak pantas jadi pejabat publik. Insensibilitas macam ini diperlihatkan Ketua DPR lewat pernyataan publik, ”Rakyat biasa jangan diajak membahas pembangunan gedung baru, hanya orang-orang elite, orang-orang pintar yang bisa diajak membicarakan masalah itu” (Kompas, 5/4).

Pernyataan itu dibangun di atas prasangka politik ”oposisi biner”, seperti dikatakan Norberto Bobbio (Left and Right: The Significance of a Political Distinction, 1996), yaitu nalar perbedaan antagonistik dua pihak, seperti DPR versus rakyat. Satu pihak dianggap maju, terdidik, intelek, dan pintar; sementara pihak lain dianggap terbelakang, tak terdidik, awam, dan bodoh. Nalar macam ini menciptakan stereotip ”rakyat” sebagai entitas politik rendah, bawah, dan hina karena itu tak pantas masuk dalam diskursus politik.

Nalar oposisional macam ini adalah bentuk ”kekerasan simbolik” di mana otoritas di(salah)gunakan untuk mendesakkan sebuah tafsir bias. Otoritas (kewenangan) jadi otoriterisme (kesewenangan) di mana kekuasaan digunakan bukan demi kepentingan rakyat, melainkan demi kepuasan diri sendiri. Penyelewengan otoritas tak menghormati keutamaan etis demi kesenangan. ”Hedonisme politik” macam ini, seperti dilukiskan Leo Strauss (On Tyranny, 1991) hanya milik para ”tiran”.

”Tirani politik” adalah ketika otoritas disalahgunakan, kewenangan jadi kesewenangan, kepercayaan rakyat dikhianati, suara rakyat dibungkam, fungsi representasi direduksi, kesejahteraan rakyat jadi kesenangan diri. Demokrasi menjelma jadi ”hedonikrasi” (hedonicracy), yaitu ketika dorongan kesenangan melabrak norma dan aturan hukum, meminggirkan prinsip kepercayaan, dan memutar balik makna semantik kepercayaan itu sendiri.

Skeptisisme demokrasi

Kepercayaan adalah fondasi demokrasi karena digunakan sebagai landasan membangun ekspektasi aneka tindakan, relasi, atau transaksi bertujuan. Kepercayaan adalah fondasi keyakinan diri dalam setiap tindak sosial, ekonomi, dan budaya yang memberi vitalitas dan optimisme masa depan sebuah masyarakat-bangsa. Sebaliknya, ketakpercayaan meruntuhkan keyakinan diri dan mendorong pesimisme masa depan. Michael Oakeshott (The Politics of Faith and the Politics of Scepticism, 1996) melukiskan sebuah dialektika vitalitas politik, yang—layaknya pendulum— berayun ke dua arah: keyakinan (faith) atau skeptisisme (scepticism).

”Politik keyakinan” adalah sebuah vitalitas yang memberi masyarakat politik— sebagai zoon politicon—semacam optimisme kolektif dalam mencapai kesempurnaan diri (masyarakat, bangsa) melalui kekuatan sendiri. Sebaliknya, ”politik skeptisisme” adalah politik tanpa vitalitas yang menumbuhkan ekspektasi bahwa kesempurnaan mustahil dicapai karena muatan prasangka, konflik, ketakharmonisan dalam perilaku manusia politik tak akan dapat diselesaikan. Ketakpercayaan menciptakan ”kecemasan” (anxiety) dan ”ketakpastian” (insecurity) yang mengurangi kepercayaan diri dan optimisme. Kecemasan, kata Paul Tillich (The Courage to Be, 1980) adalah kondisi eksistensial orang menyadari kehampaan diri, masyarakat, dan bangsanya (non-being).

Orang hanya menemukan ”nama-nama”, tetapi tak ada wujudnya. Kecemasan akibat ”ruang hampa” demokrasi, yaitu ketika rakyat merasakan kehampaan dirinya sebagai demos: bernama tapi tak pernah dapat nama, dihitung tapi tak pernah diperhitungkan, disebut tapi tak boleh ikut wacana. Ruang hampa demokrasi adalah kondisi ketika sesuatu punya nama dalam demokrasi—seperti ”rakyat”, ”konsensus”, ”suara”, ”kejujuran”, ”kebebasan”—tapi semua hampa makna.

Kata ”rakyat” dimanipulasi dalam mimbar parlemen, ”konsensus” dibelokkan dalam aneka pasar gelap politik, kata ”suara” diperjualbelikan dalam mafioso politik, kata ”keadilan” dimanipulasi di lembaga peradilan, kata ”kejujuran” diparodi di lembaga perpajakan, kata trust dilecehkan di lembaga perbankan. Demokrasi hampa makna menciptakan situasi tanpa harapan, ketakberdayaan, dan skeptisisme. Ketakberdayaan ”musuh” terbesar demokrasi karena tujuan demokrasi adalah pemberdayaan dan emansipasi. Demokrasi tak sekadar jalan kebebasan, tapi lebih penting lagi pemberdayaan. Demokrasi adalah pemberdayaan demos yang memungkinkan aspirasi, keinginan, dan suara rakyat disuarakan, bukan dibungkam.

Keberanian adalah kekuatan mengatasi kecemasan, ketakutan, dan skeptisisme. Demokrasi adalah ruang untuk membangun ”keberanian rakyat”, kekuatan berbicara sebagai rakyat secara terhormat. Namun, demokrasi juga ruang membangun ”keberanian penguasa”, yaitu kekuatan untuk mendengarkan suara rakyat secara bijak. Sang pengecut adalah penguasa yang membungkam suara rakyat karena tak kuasa melawan suara-suara kritis itu secara argumentatif, strategis, dan diplomatis. Demokrasi para pengecut adalah ketika suara-suara kebenaran diberangus arogansi kekuasaan.

Yasraf Amir Piliang Dosen Program Magister Studi Pembangunan ITB

Sumber : kompas.com

Wow, Hibah Peneliti Muda Rp 300.000.000!

Minggu, 06 Maret 2011

Berita gembira bagi para peneliti muda Indonesia. Dalam rangka memperingati HUT-nya ke-60, Biro Oktroi Roosseno (BOR) memberikan bantuan dalam bentuk hibah dengan jumlah total Rp 300.000.000 untuk empat pemenang atau senilai Rp 75.000.000 untuk setiap proposal penelitian.

Penawaran ini sudah dibuka bagi para peneliti muda Indonesia berusia maksimal 45 tahun tepat pada 22 Juni 2011 nanti. Kandidat bisa seorang peneliti utama, peneliti, dan pembantu peneliti, yang merupakan warga negara Indonesia dan tinggal di Indonesia.

Disyaratkan, peneliti utama hanya berhak mengajukan satu proposal penelitian, bersama dengan biodata yang menunjukkan track record keunggulannya sebagai seorang peneliti di bidang Pemanfaatan Energi Alternatif, Peningkatan Ketahanan Pangan, serta Pemanfaatan Keanekaragaman Hayati.

Perlu diketahui, penawaran ini ditujukan untuk peneliti muda yang telah mapan di bidang penelitian yang ditekuni dan memerlukan dukungan dana untuk aspek tertentu dalam penelitiannya (on going research project) yang diusulkan wajib dilakukan di sebuah fasilitas penelitian di Indonesia dan hasilnya dapat berkontribusi bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Bagi yang berminat, proposal yang telah lengkap dan biodata yang menunjukkan track recordkeunggulan sebagai peneliti harus sudah diterima BOR paling lambat 10 Mei 2011 pukul 17.00 WIB ke alamat: Biro Oktroi Rooseno-Kantor Taman A9, Unit C1-C2/Mega Kuningan, Jakarta Selatan-Jakarta 12950/PO BOX. 4585-Jakarta 10001
Telp: 021-5762310 (Hunting)/E-mail: research2011.bor@gmail.com.

Informasi lengkap mengenai syarat dan prosedur pendaftaran serta mekanisme seleksi bisa dilihat di situs Dikti Kemdiknas di http://www.dikti.go.id/. Pemenang akan diumumkan pada 14 Juni 2011.

(Source : kompas.com)

Dibuka, Beasiswa S-2 ke Lima Negara!

Kementerian Komunikasi dan Informatika kembali menawarkan kesempatan beasiswa pendidikan S-2 di luar negeri untuk tahun akademik 2011/2012. Hanya saja tawaran ini berlaku khusus bagi pegawai negeri sipil (PNS) di lembaga kementerian dan nonkementerian, termasuk TNI/POLRI, baik di lingkungan pemerintah pusat maupun pemerintah daerah, serta karyawan dan karyawati swasta yang berhubungan dengan bidang teknologi dan informasi.

Beasiswa akan diberikan kepada para pelamar yang dinilai memenuhi persyaratan mengikuti program pendidikan S-2 di perguruan-perguruan tinggi di Belanda, Jerman, Jepang, Korea Selatan, serta Australia, yang telah ditetapkan pihak Keminfo.

Kandidat wajib memilih program studi sesuai bidang-bidang studi yang juga telah ditetapkan Keminfo, serta khusus bagi kandidat yang mendapatkan tugas akhir berupa penelitian, wajib menyelesaikan penelitian dengan tema/topik sesuai visi dan misi Keminfo.

Pelamar akan mendapatkan prioritas jika saat ini telah memiliki Surat Penerimaan (Letter of Acceptence) dari perguruan tinggi yang telah ditetapkan Keminfo (daftar bidang studi dan perguruan tinggi terlampir) dan surat tersebut telah mendapatkan verifikasi dari Keminfo.

Sebagai syarat utama lainnya, pelamar telah lulus sarjana (S-1), memiliki IPK minimal 2,90 (dari skala 4), memiliki nilai Institutional TOEFL (ITP) minimal 550 atau IELTS minimal 6,5, serta mmiliki nilai Tes Potensi Akademik (TPA) minimal 550, serta mendapatkan rekomendasi dari pejabat berwenang. Kandidat yang diutamakan adalah yang telah memiliki pengalaman kerja minimal 2 tahun dan berusia maksimal 35 tahun.

Bagi yang berminat, pendaftaran dan penyerahan berkas lamaran beasiswa paling lambat 4 April 2011. Informasi lebih detail mengenai beasiswa ini bisa dilihat dan diunduh langsung dihttp://www.depkominfo.go.id.

(Source : kompas.com)

Buku Sosial

Sabtu, 05 Maret 2011

Buku - Dahlan Iskan

Ganti Hati (Indonesia Version)

Buku ini penuh dengan inspirasi dan motivasi. Menceritakan perjuangan seorang Dahlan Iskan dalam Transplantasi liver, sekaligus menceritakan success story-nya, Bagaimana kehidupan keluarga dan lingkungannya dulu, serta filosofi hidup yang ia pegang hingga bisa menjadi sosok Dahlan Iskan yang sekarang ini.

Penulis : Dahlan Iskan, Penerbit : JP Books, Ukuran : 13.5 x 20 cm, Tebal : vii + 328 hlmn, Harga : Rp. 36.000, Bahasa : Indonesia, ISBN : 978-979-1490-08-5

==============================

Buku - Dahlan Iskan

Menegakkan Akal Sehat

Sesuai dengan tema, Akal Sehat, Pak Dahlan mengangkat cerita-cerita sederhana yang terjadi (hampir) tiap hari di masyarakat. Melawan akal sehat, tapi kita menganggapnya sebagai hal yang wajar. Misal: pesawat yang sering telat, antrean yang kacau di Bandara Juanda (dan bandara-bandara lain di Indonesia), budaya suap wasit di sepakbola, bahan bakar minyak, pidato yang bikin ngantuk, Adam Air, hingga kereta peluru Tiongkok.

Penulis : Dahlan Iskan, Penerbit : JP Books, Ukuran : 13 x 20 cm, Tebal : 124 hlmn, Harga : Rp. 32.500, Bahasa : Indonesia, ISBN : 978-979-1490-41-2

==============================

Buku - Dahlan Iskan

The Joy Of Agony

Setelah sukses dalam edisi bahasa Indonesia, buku Ganti Hati tulisan Dahlan Iskan, kini terbit dua versi bahasa asingnya. Yang satu dalam bahasa Inggris, satu lagi dalam bahasa Mandarin. Ketiganya punya tujuan yang sama: agar makin banyak orang yang membaca buku pengalaman Chairman/CEO Jawa Pos itu ketika menjalani operasi besar transplantasi hati di rumah sakit Tianjing, Tiongkok. Dalam versi bahasa Inggris, buku itu diberi judul The Joy of Ag ...

Penulis : Dahlan Iskan, Penerbit: JP Books, Ukuran : 13.5 x 20 cm, Tebal : vii + 328 hlmn, ISBN : 978-979-1490-21-X, Harga : Rp 50.000, Bahasa : English

==============================

Kurma Jadi Imunisasi Pertama Pada Bayi

Jumat, 04 Maret 2011

Pemberian buah kurma yang dikunyah halus pada bayi menjadi imunisasi pertama bagi bayi. Menurut ustad Mas'udi, cara ini sudah dilakukan penelitian oleh organisasi kesehatan dunia WHO. Ustad Mas'udi mengungkapkan pada tausiah usai pemberian nama seorang anak perempuan di jalan Saka Permai, Banjarmasin, Sabtu (5/3/2011) siang. Pada pemberian nama tersebut, ustad Mas'udi meminta si kakek bayi untuk mengunyahkan kurma sampai hancur dan memasukan ke mulut bayi. "Yang mengunyah kurma harus sedarah dengan bayi, ini yang dapat memberikan kekebalan pada bayi," kata Mas'udi. Selama ini, katanya, ada kekeliruan dalam melaksanakan sunah Nabi Muhammad yaitu ustad yang memberi nama yang mengunyah dan memberikan pada bayi. "Harusnya,mereka yang sedarah," kata Mas'udi sembari yang dikunyah buah kurma bukan madu. Sungguh luar biasa sunah Nabi Muhammad SAW. Begitu juga dengan pemotongan rambut bayi pada saat tasmiyah sangat besar manfaatnya. Berdasarkan penelitian WHO,rambut bayi yang dipotong digundul dapat merangsang otak bayi sehingga cerdas.

(Source : tribunnews.com)

Mutu Sekolah Gratis Ditingkatkan

Minggu, 27 Februari 2011

Palembang - Mutu pendidikan sekolah gratis akan ditingkatkan supaya sumber daya manusia yang dihasilkan semakin berkualitas.

Kepala Dinas Pendidikan Nasional Provinsi Sumsel Ade Karyana di Palembang, Minggu, mengatakan, pihaknya akan meningkatkan mutu pendidikan sekolah gratis sehingga lulusannya semakin baik.

Selama ini sekolah gratis terkesan seperti kurang berkualitas padahal pendidikan tersebut sama dengan pendidikan umum lainnya, ujar dia.

Sekolah gratis tersebut sudah dibiayai pemerintah sehingga masyarakat kurang mampu tidak perlu membayar lagi, ujar dia.

Untuk 2011 ini pihaknya sudah menganggarkan dana cukup besar, namun ia tidak menyebutkan jumlahnya yang rinci.

Sekolah gratis itu memang sangat membantu masyarakat sehingga masih menjadi program prioritas Pemerintah Provinsi Sumsel, katanya.

Bahkan berdasarkan menilaian tim Universitas Indonesia, sekolah gratis banyak diminati masyarakt sehingga cukup bermanfaat dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia, ujar dia.

Jumlah masyarakat putus sekolah berkurang, namun ia tidak angkanya dan itu bagian dari program sekolah gratis.

Oleh karena itu pihaknya terus membenahi program tersebut supaya mutu kelulusannya terus meningkat, tambah dia. (U005/S016/K004)

(Source : antaranews.com)

Editor: B Kunto Wibisono

Membaca Buku Dan Majalah Secara Online Dengan GooReader

Minggu, 28 November 2010

Sebelum dunia Internet menjadi semakin maju dan lengkap, kita harus membeli atau meminjam majalah ataupun buku yang ingin kita baca. Namun, sekarang kita dapat dengan mudah menemukan banyak sekali buku dan majalah yang dapat kita baca secara online.

Dengan Google Books, kita dapat menemukan jutaan buku serta majalah yang dapat kita baca secara gratis. Untuk menemukan buku yang ingin kita baca pun sangat mudah, karena kita dapat menggunakan fitur search yang disediakan. Memang, tidak semua buku ataupun majalah dapat kita baca secara keseluruhan. Banyak dari buku serta majalah di Google Books yang hanya merupakan preview. Namun jika kita jeli dalam mencari, kita dapat menemukan banyak buku yang dapat kita baca, atau bahkan kita unduh secara keseluruhan.

Membaca buku dan majalah secara online sangatlah mudah, dan aplikasi GooReader membuatnya menjadi semakin mudah. GooReader adalah desktop application yang memungkinkan kita untuk mencari, mengunduh, dan membaca buku serta majalah yang dapat kita temukan di Google Books, tanpa harus surfing menggunakan web browser. Antar muka GooReader membuat membaca buku dan majalah secara online menjadi jauh lebih nyaman. Kita dapat membuka halaman demi halaman dengan gerakan mouse yang natural dan halus.

Apikasi GooReader ini tersedia dalam versi free serta paid di situs resmi nya GooReader.com. Tentu saja, versi free memiliki fitur yang terbatas apabila dibandingkan dengan versi paid. Namun, versi free aplikasi ini cukup membantu bagi mereka yang suka membaca buku ataupun majalah secara online di Google Books. Aplikasi ini dapat digunakan di komputer yang menggunakan sistem operasi Windows XP, Vista, dan Windows 7 dengan .Net Framework 3.5 SP1.

Download: http://gooreader.com/download/

(Source : klik-kanan.com)

Buku

Kamis, 10 Juni 2010

Judul Buku : Self Publishing Kupas Tuntas Rahasia Menerbitkan Buku Sendiri
Penulis : Miftachul Huda
Penerbit : Samudra Biru
Pengantar : Hernowo
Editor : Bramma Aji Putra
Rancang Sampul : Ainul Ghurri
Tata Letak : u21424k@ymail.com
Illustrator : Rangga AMB
Kode : Sam003
Cetakan : Pertama, Desember 2010
Harga : 27.000
ISBN : 978-602-96516-3-8
Ukuran : 14 x 20 cm
Halaman : xiv + 122 hlm

Segera dapatkan buku yang sangat menarik ini...!!!
========================================
========================================

Menjadi orangtua berhubungan dengan waktu yang kita lalui setiap hari. Menjadi orangtua berhubungan dengan menit-menit yang kita lalui bersama anak-anak kita. Mungkin kita melaluinya hanya beberapa menit saja setiap hari. Tapi menit-menit itu adalah menit-menit yang memungkinkan kita menjadi orangtua.

Tidak jarang, kesibukan sehari-hari membuat kita tidak punya waktu untuk bersama anak-anak kita. Tidak jarang, tugas-tugas kita sehari-hari membuat kita, walau sementara, tercerabut dari tugas-tugas sebagai orangtua.

Hari-hari kerja membuat waktu, pikiran dan tenaga kita terkuras untuk urusan kerja. Pergi pagi pulang sore, bahkan sampai larut malam. Waktu sore atau malam hari bersama anak-anak kita, kalaupun ada, adalah waktu-waktu sisa. Pikiran dan tenaga yang kita curahkan untuk anak-anak kita mungkin juga sisa hari itu. Pagi hari, apalagi di kota besar, mungkin kita lebih dahulu berangkat kerja daripada anak-anak kita bangun pagi dan berangkat sekolah. Mungkin gambaran kita dalam berhubungan dengan anak-anak kita tidak seekstrem itu. Atau mungkin juga lebih ekstrem dari itu. Yang lebih penting adalah, menjadi orangtua berhubungan dengan waktu, yakni menit-menit yang kita miliki, dan kita berikan untuk anak-anak kita.

JudulMenit untuk Anakku
SeriPsikologi Anak
ISBN / EAN9789792775044 / 9789792775044
AuthorAbu Bakar Fahmi
PublisherELEX MEDIA
Publish21 Juli 2010
Pages268
Weight250 gram
Dimension (mm)140 x 210
Tag
Harga
Psikologi,
Rp46.800

Dapatkan segera di toko-toko terdekat...

==============================